free website stats program

Sebuah Cerita Sahabat – Pagi di Rinjani (2)

Keren Febee! Ingredients of Life

 

“Jika kamu ingin hebat, berpetualanglah! Karena dunia milik orang-orang pemberani (pepatah lama)

17 Juni 2012:

Pagi hari saya dibangunkan oleh suara kokok ayam yang melengking tinggi. Rupanya demi kenyamanan si ayam, pak porter memberi kebebasan sejenak kepada ayam untuk berjalan-jalan berbatas seutas tali.

ayam1_s

Saya bangun dengan rasa penasaran yang membuncah di hati, penasaran dengan petualangan yang sudah menunggu. Dari balik lembah saya menatap puncak rinjani, seolah meminta saya untuk bergegas.

rinjani dari bukit_s

Setelah sarapan pagi dan menyelesaikan segala persiapan pendakian, kami memulai petualangan hari ini. Target kami adalah nge camp di pelawangan sembalun. Waktu menunjukan pukul sembilan pagi, tapi matahari sudah sangat terik. Dari awal perjalanan dari pos 3 ini kami sudah berhadapan dengan track yang “dasyat”, ditambah dengan sengatan matahari yang menggelayut dibelakang, saya jadi berpikir, “apakah saya sanggup?”

Memang gunung Rinjani ini adalah gunung yang sudah sangat populer baik di dalam maupun di luar negeri, bisa mencapai ribuan pendaki sepanjang musim pendakian. Sehingga untuk jalur pendakian nya sudah sangat tampak jelas, kita tidak harus membabat hutan untuk membuka jalur. Tapi jangan salah, panjangnya medan dan track yang tidak bisa disebut landai benar-benar menguji fisik maupun mental.

bukit_s

Dahulu terdapat dua jalur pendakian untuk menuju pelawangan sembalun. Jalur pertama medan yang di tempuh sedikit landai tapi sangat lah panjang, jalur ini disebut jalur penyiksaan. Jalur yang kedua medan nya tidak panjang tapi track nya menanjak dan ini disebut jalur penyesalan. Namun sejak beberapa tahun yang lalu, karena jembatan penghubung di jalur penyesalan roboh, maka jalur tersebut sudah ditutup untuk pendakian. Dari sebutan kedua track itu sudah sangat jelas bukan apa yang akan kami lalui hari ini??

bukit penyesalan

Mendaki Rinjani sangat menguras stamina. Beberapa kali kami harus menghentikan langkah untuk menarik nafas dalam-dalam sebagai bekal beberapa langkah ke depan. Sebagai gambaran, untuk tiba di pelawangan Sembalun ternyata kami harus menaklukan tujuh buah bukit terlebih dahulu. Tapi yang membedakan gunung rinjani dengan gunung-gunung lain nya adalah bukit-bukit tersebut tidak terlihat sampai kita bisa menaklukan satu bukit sebelumnya, jadi diatas bukit ada bukit lagi dan itu berlapis tujuh. Mendaki bukit setapak demi setapak seperti bukit ini tidak berujung.

menanjak_s

Jumlah tujuh buah bukit ini baru saya ketahui ketika saya menulis cerber ini. Terbayangkan bagaimana kekuatan mental saya benar-benar diuji saat ini, karena saya berpikiran setelah saya berhasil menaklukan satu buah bukit saya akan menemukan track menurun atau malah sudah tiba ditujuan ? Semua salah besar, jangankan jalan menurun, tapi satu buah bukit lagi sudah menunggu untuk ditaklukkan.

letih_s

Sepanjang perjalanan ini kami beriringan dengan banyak rombongan pendaki lain dari berbagai daerah dan negara. Susul menyusul terjadi layaknya sebuah kompetisi, ini juga yang menjadi penyemangat saya untuk jangan menyerah. Contohnya sebuah rombongan mahasiswa ITB yang sejak awal selalu beriringan dengan kami. Rasanya bangga jika bisa menyalip mereka, mengingat faktor usia, seharusnya mereka bisa lebih kuat dan lebih cepat dong dari saya? Tapi lucunya jika mereka bisa menyusul, sebagai penghibur hati saya cuman bilang “akh mereka kan masih muda, memang seharusnya lebih cepet :) ”….

Ada satu hal yang akan saya ingat selalu, yaitu jangan percaya dengan porter atau guide jika berbicara mengenai jarak di gunung, karena sejauh apa pun jarak yang masih harus ditempuh, mereka akan menjawab “sebentar lagi sampai” atau “itu dibalik pohon itu sampai” padahal yang dimaksud sebentar lagi itu masih lah jauh. Satu dua bukit pertama saya masih mempercayai nya, tapi setelah itu saya sudah tidak percaya lagi, sampai-sampai saya membuat rumus jarak sendiri yaitu 2 kali tambah 1 jam, waktu Porter. Jadi kalau porter bilang satu jam lagi sampai, artinya satu jam di kali dua plus satu. Mungkin dalam hati mereka mengibaratkan kami adalah tokoh Donkey dalam film shrek yang berisik, selalu bertanya “Are we there yet? Are we there yet ?” Aliass aduuhh berisik deeh nanya-nanya terus …

Selain pendaki muda-muda yang kami temui, ternyata di gunung rinjani ini pun kami menemukan beberapa pendaki yang sudah cukup sepuh, yang membuat kami terkagum-kagum. Keberadaan pendaki senior ini dalam rangka berobat ke sumber air panas gua susu di segara anak.

pak tua_s

Biarlah alam tercipta dengan liar nya, kami tetap menikmati semua yang disuguhkan oleh – NYA. Seringkali sebagai penghibur hati saya berhenti sejenak untuk menikmati pemandangan sekitar yang penuh pesona. Jika bertemu dengan pohon rindang kami akan beristirahat, memulihkan tenaga berbekal makanan kecil yang kami bawa. Kami sangat menikmati proses pendakian ini, meminjam pepatah lama :tak kan lari gunung dikejar.

ourtrack

pelawangan3

pelawangan2

Akhirnya setelah lima jam perjalanan, di puncak keletihan yang dirasa, tiba-tiba kami disuguhkan dengan pemandangan Danau segaranak di depan mata, danau itu tampak sangat anggun dibawah sana, seperti sedang menunggu kami. Rasa letih langsung hilang, terbayar sudah dengan pemandangan indah ini. Ucapan syukur langsung terucap dari mulut kami masing-masing. Kami langsung mengabadikan moment di pelawangan sembalun ini dengan mengambil foto sepuasnya.

danau from top

on sembalum

Puas foto-foto kami melanjutkan perjalanan, ternyata perjuangan kami hari ini belum berakhir disini, untuk menuju camping ground kami masih harus melintasi satu bukit lagi. Kurang lebih 15 menit kemudian baru kami bisa menemukan camping ground itu. Rasanya bahagia melihat tenda kami sudah berdiri rapih. Porter kami memilih posisi ngecamp tepat di atas lembah dengan pemandangan danau segaranak. Satu area dengan kami terdapat rombongan turis asing yang mendirikan tujuh buah tenda. Pelawangan sembalun adalah pintu gerbang memasuki pesona indah puncak Rinjani, bagi pendaki yang berniat muncak biasanya akan nge-camp di pelawangan Sembalun ini, baru pada tengah malam mulai jalan menuju puncak.

pelawangan sembalun

Gunung Rinjani memang selalu meyuguhkan hal yang sangat unik, di pelawangan sembalun ini kami dikejutkan dengan pedagang yang menjual coca-cola, bir bintang dan rokok Marlboro, seperti mimpi yang menjadi kenyataan, penat, haus dan letih yang kami rasakan terasa kembali segar setelah di ganjar coca-cola dingin yang masuk dengan pasti ke kerongkongan kami, luar biasa segarnya.

drink

Kekaguman akan pedangan ini akhirnya membawa kami kesebuah perbincangan, bagaimana mereka membawa 4 box botol bir bintang ukuran besar dan 10 box kaleng coca-cola. Dengan cara di tandu mereka membawa barang dagangan nya, untuk menjawab pertanyaan saya, “wah beratnya kayak apa ya?” serta merta segera menunjukan pundaknya yang masih lecet dan lebam akibat gesekan bambu dengan pundaknya yang terbebani, bisa dibayangkan bukan beratnya.

pedagang

Mereka akan tetap tinggal di pelawangan sembalun hingga dagangan mereka habis yang kurang lebih 2 minggu, dan selanjutnya mereka turun bergantian dengan rekan nya yang menggantikan berdagang diatas pelawangan sembalun. Dalam kurun waktu 4 tahun mas didin sudah menjalankan bisnis ini, bukan waktu yang pendek, sangat luar biasa dan memang mengejutkan.

pedagang minuman

Aroma makan siang baru saja selesai dimasak oleh porter menyeruak, dengan penuh suka cita kami langsung menyantap menu yang dihidangkan. Setelah makan, acara selanjunya adalah Tidur Siang… Yuuppp pendakian rinjani ini adala pendakian yang paling membahagiakan, karena menjelang sore kami sudah bisa sampai di camping ground, tidak seperti pendakian-pendakian lain nya yang biasanya menjelang malam baru bisa nge camp. Oleh karena itu tidur siang pun bisa masuk dalam kegiatan mengisi waktu. Badan letih dan hembusan angin dari luar membuat saya cepat tertidur, tetapi sebelum terlelap saya masih sempat mengagumi langit biru dan cantiknya danau Segaranak dari balik Tenda.

from my tent

Udara dingin dan hembusan angin yang mulai kencang membangunkan saya dari tidur, tidak terasa saya sudah tertidur selama satu jam. Saya mendengar teman-teman diluar sedang ngobrol seru, segera saya ikut bergabung, tetapi terlebih dahulu saya mengenakan jacket dan kupluk, senjata untuk dingin yang makin terasa.

sunset

menikmati sore

Sore hari di pelawangan sembalun sangatlah indah, birunya danau tampak tenang dengan kabut yang menggelayut tipis, layaknya kosmetik penambah keindahan danau. Untuk mengisi waktu saya, Ichil dan Yan berjalan-jalan sekitar lembah, seolah tidak mau melewati sore indah ini. Semakin sore area camping ground semakin ramai, kami saling bertegur sapa dan bertukar cerita. Langit yang tadinya biru berubah jingga. Bersama-sama kami menyaksikan matahari perlahan-lahan menghilang di balik gunung Agung yang tampak cerah sore itu dari pelawangan Sembalun.

sore_pelawangan

sunset pelawangan

Semakin malam udara sangatlah dingin, angin semakin kencang. Ingin rasanya tetap berada didalam tenda. Tapi untungnya api unggun sudah menyala, kembali kami berkumpul di depan api unggun. Kami berdiskusi mengenai rencana muncak malam nanti. Rencana nya kami akan muncak jam satu malam nanti. Tapi dengan angin yang sangat kecang seperti ini, Bang Osh sebagai ketua group memberi warning “jika angin semakin kencang dan cuaca memburuk hingga tengah malam nanti, kami tidak dianjurkan untuk muncak”. Dan kami menerima peringatan dari Bang Osh tersebut. Setelah itu kami makan malam ditengah deru angin dan cuaca dingin. Tidak seperti malam sebelumnya yang bisa berlama-lama ngobrol di depan api unggun, malam ini setelah makan malam selesai kami langsung masuk ke tenda masing-masing. Untuk menangkal udara yang sangat dingin, saya, Ichil dan Yan berinisiatif tidur dalam satu tenda, logika nya semakin banyak orang dalam satu tenda semakin hangat bukan ? dan kami memilih tenda Yan yang lebih besar untuk tidur malam ini.

Sangat lah sulit tidur dalam kondisi angin yang sangat kencang seperti ini, suara angin seperti melolong di malam sunyi, hantaman angin juga membuat tenda kami terus bergoyang, saya jadi takut tenda ini akan diterbang kan angin ke jurang di sisi kiri dan kanan camping ground ini. Dalam tenda kami ber tiga tidak bisa tidur nyenyak, beberapa kali kami terbangun. Saya yang mengenakan baju berlapis-lapis sampai sesak nafas. Melihat cuaca buruk seperti ini, kami memutuskan untuk tidak muncak. Di luar tenda saya mendengar suara- derap langkah kaki rombongan yang nekad untuk terus muncak tapi ada banyak rombongan yang akhirnya balik lagi, mengurungkan niat nya untuk muncak dan kembali ke dalam tenda berjuang melawan angin dingin ditengah kantuk disisa malam.

18 Juni 2012:

sunrise

Ke esokan pagi nya, angin masih kencang, tapi saya, Ichil dan Yan sudah bangun sebelum matahari terbit, Kami berpikir, walau kami tidak mendapatkan sunrise dari puncak gunung Rinjani tapi masih bisa melihat keindahan sunrise dari pelawangan Sembalun. Dan Tuhan mengabulkan keinginan itu, kami di izinkan untuk melihat sunrise tanpa terhalang kabut, walau hanya dari Pelawangan Sembalun. Kami bertiga menyaksikan perubahan detik demi detik sinar matahari yang perlahan muncul di cakrawala. Pengalaman indah yang akan terus terpatri dalam ingatan saya.

sunrise_pelawangan

Walaupun kami tidak bisa muncak tapi kami tidak merasa kecewa, kami tidak bisa memaksa ke ganasan alam. Jika sudah berhadapan dengan alam, biarkan pikiran jernih yang bicara bukan Ego. Bagi kami, bukan puncak yang kami cari, tetapi proses menuju nya yang ingin kami dapatkan.

febee_sunrise

Bersambung ke part 3….

Komentar Anda

comments

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below