free website stats program

Sebuah Cerita Sahabat – Trekking Rinjani (1)

Thank’s Febee! Ingredients of Life

 

“Rinjani tak hanya sebuah gunung namun adalah sebuah mimpi yang terwujud setelah 19 tahun penantian….”

15 Juni 2012 :
Pesawat yang kami tumpangi dari Jakarta mendarat dengan mulus di Bandara International Lombok. Sedikit terkejut melihat kemegahan bandara international yang baru saja dimiliki oleh propinsi nusa tenggara barat ini. Cuaca diluar sangat terik, langit bersih ciri khas pulau ini ditambah logat sasak yang terdengar dari obrolan petugas bandara menandakan bahwa kami benar-benar sudah tiba di Lombok.

BIL

Di depan pintu keluar terminal, Bang Osh dan Teddy, dua sahabat lama sudah menunggu kami. Bang Osh yang nantinya akan menemani kami selama pendakian Rinjani. Dengan menggunakan mobil sewaan, kami langsung menuju desa Senaru. sebuah desa di kaki gunung Rinjani,yang kami tempuh selama 3 jam perjalanan dari bandara.

Perlu saya jelaskan sebelumnya, bahwa ada dua buah jalur pendakian rinjani yang populer, yaitu melalui desa Senaru dan desa Sembalun. Jalur sembalun biasanya menjadi pilihan bagi para pendaki, selain pemandangan savana nya yang indah track nya juga landai pada permulaannya, sehingga medan ini menjadi “menu pembuka” yang menggiurkan bagi para pendaki. Karena itu kami pun memilih mendaki melalui jalur Sembalun, namun dikarenakan desa Sembalun tidak memiliki banyak fasilitas penginapan, maka kami menginap di desa senaru dan kebetulan porter yang kami sewa berasal dari desa senaru
Setibanya kami di desa Senaru, kami sudah ditungggu oleh Tole, Fani dan Anding, termasuk Bang Osh mereka adalah teman-teman dari SAMPALA sebuah komunitas pecinta alam dari kota mataram yang turut serta menemani kami dalam pendakian ini.

Pada malam harinya tidak banyak aktifitas yang kami lakukan, setelah makan malam kami pun langsung menuju penginapan guna mengumpulkan energy untuk perjalanan panjang di keesokan harinya.

16 Juni 2012 :

Pagi hari, setelah sarapan kami langsung check out dari penginapan dan mulai melakukan persiapan untuk pendakian. Kami membagi antara barang-barang yang akan kami bawa sendiri dan barang-barang yang akan dibawa oleh porter. Semua keperluan logistik dan perlengkapan seperti tenda, sleeping bag, matras, baju ganti dan lain-lain dibawa oleh tiga orang porter. Sehingga saya, Ichil dan Yan hanya membawa daypack yang berisi dua buah botol air mineral ukuran 600 ML dan makanan kecil untuk bekal perjalanan. Tapi, tidak demikian dengan teman-teman SAMPALA yang dengan gagahnya membawa carrier berukuran jumbo di bahu mereka masing-masing.

Diluar dugaan saya, urusan packing ini dapat diselesaikan dengan cepat oleh para porter. Padahal kalau diperhatikan, barang yang mereka packing tidak main-main, untuk logistik saja mereka membawa 12kg beras, 2 lusin telur, berkilo-kilo sayuran seperti kentang, wortel, buncis,kembang kol, dan kangkung, belum lagi bumbu dapur seperti bawang,cabe,lengkuas, kunyit. Gak ketinggalan buah-buahan apel, jeruk dan nanas. Termasuk juga makanan kaleng seperti kornet dan sarden. Ini baru logistic, belum peralatan tenda. Hebat nya lagi para porter Rinjani membawa semua barang-barang itu dengan cara dipikul dalam keranjang dengan bantuan bambu sebagai penyeimbang, bukan menggunakan Carrier. Batas Maximal daya pikul mereka dibatasi hingga 20 Kg saja per orang, tidak boleh lebih. Oh iya, dalam rombongan kami turut pula se ekor ayam hidup yang akan manjadi menu istimewa kami malam terakhir di danau Segaranak, Ayam Taliwang.

Persiapan

Urusan packing selesai, dengan menggunakan mobil sewaan kemarin dan satu buah mobil puckup untuk membawa porter dan barang ,kami pun beriringan menuju Sembalun. Kurang lebih 45 menit perjalanan. Setelah menyelesaikan administrasi pendaftaran, lalu Bang Osh mempimpin doa, kami berdoa, memohon keselamtan, menyatukan tekad dan semangat menuju Rinjani. Pukul setengah sebelas kami mulai perjalanan ini.

Seperti yang sudah saya jelaskan di awal, jalur sembalun adalah padang savana yang luas. Sejauh mata memandang deretan padang rumput tampak seperti tiada bertepi dengan konturnya yang berbukit. Melihat hamparan padang savana ini mengingatkan saya akan film yang sangat terkenal di TVRI di era 90 an yaitu Little House On The Prairie, membayangkan si kecil Laura berlari naik turun bukit ilalang dengan gembira nya.

Savana2

Awal perjalanan kami melewati rumah-rumah penduduk dan perkebunan sayur. Setelah keluar dari perkebunan, baru kami disuguhkan dengan pemandangan deratan bukit ilalang yang menakjubkan ini. Deretan bukit-bukit di belakang kami tampak seperti memagari padang savana dengan anggun nya dan puncak gunung Rinjani yang begitu gagah berdiri tegap di depan mata.

Setengah jam pertama perjalanan kami sudah dibuat terengah-engah, bukan karena medan yang berat, tapi oleh sengatan matahari yang terasa sangat dekat diatas kepala. Untuk beberapa waktu kami tidak menemukan pohon rindang untuk berteduh, hanya hamparan padang rumput yang luas. Bahagia rasanya jika sesekali menemukan pohon rindang, bisa berhenti sejenak untuk minum dan mengunyah jelly, cemilan favorite yang tidak pernah ketinggalan kalau lagi naik gunung.

portir

Rombongan kami terdiri dari 10 orang, dengan tiga orang porter yang selalu jalan jauuh di depan kami. Di belakang nya menyusul Fani dan Anding, setelah itu jarak 1 km di belakang mereka menyusul Ichil, Yan, saya dan sebagai tim penyapu jalan Tole dan Bang Osh berjalan di belakang kami. Formasi seperti ini bertahan hingga ke danau dua hari ke depan.

Tepat jam 12 siang kami sudah sampai di pos 1, untung nya terdapat sebuah selter untuk berteduh di pos 1 ini. Disini para porter sudah menunggu dengan menu makan siang yaitu sop sayur, rendang daging dan telor dadar. Perlu saya ceritakan, di setiap pos yang sudah kami tentukan untuk makan, para porter- ini akan menyiapkan peralatan memasak mereka, dengan sigap mereka membagi tugas, ada yang membuat api, ada yang bertugas memasak nasi, menyiangi sayuran sampai mengiris bumbu. Tapi karena mereka berjalan sangat cepat jadi ketika kami sampai, makanan sudah hampir siap semuanya, kami tidak perlu menunggu lama untuk prosesi masak-memasak ini. Hebatnya lagi, untuk kebutuhan membuat api unggun buat masak, bapak-bapak porter ini sudah mengumpulkan ranting-ranting atau kayu-kayu kering yang mereka temui sepanjang perjalanan.

Menu Pos2

makan-makan pos2

frenchpress pos2

Kurang lebih satu jam kami ber-istirahat dan makan siang di pos I ini, lengkap dengan buah nanas sebagai dessert dan secangkir kopi. Setelah tenaga pulih, kami meneruskan kembali perjalanan. Menurut Bang Osh yang menjadi leader di group ini, target kami hari ini adalah sampai di pos 3, ditempuh dalam waktu 2 jam berjalan santai dan rencana nya malam ini kami akan nge-camp di pos 3 ini.

Perjalanan dari pos 1 menuju pos 2 dan pos 3 masih naik turun bukit- bukit ilalang, walaupun track sudah semakin menanjak untung nya panas matahari tidak seterik di awal tadi. kami benar-benar menikmati semua keindahan yang disuguhkan sepanjang perjalanan ini, sesekali kami berhenti untuk minum atau mengambil foto. Awan putih beriring dan langit biru seperti mengawal kami sepanjang perjalanan.

Savana1

Savana

Jarak antara pos 1 ke pos 2 berjarak satu jam perjalanan, begitu juga dari pos 2 ke pos 3 bisa di tempuh dengan satu jam perjalanan juga. Sesuai dengan target, satu jam kemudian kami tiba di pos 2. Di pos 2 ini kami berhenti sejenak untuk ber istirahat. Berbicara soal air, gunung rinjani termasuk gunung yang tidak susah menemukan mata air, terdapat mata air di beberapa spot, contoh nya di pos 2 ini. Pos 2 ini di tandai dengan adanya sebuah jembatan penghubung cukup besar, seperti dibuat untuk jalur mobil, agak aneh juga dengan keberadaan jembatan di atas gunung, ternyata menurut cerita yang saya dengar, jembatan ini disediakan memang untuk dilalui mobil, jadi ceritanya sekitar tahun 80 an Presiden Soeharto berencana naik ke Rinjani untuk menyebar benih ikan di danau Segaranak. Tapi rencana itu urung dilakukan sehingga infrastruktur jalan juga berhenti sampai di pos 2 saja. Coba bayangkan kalau Pak Harto jadi nyebar benih ke danau Segaranak, bisa-bisa kita pake mobil deh ke danau.

Jembatan

Syukurlah sebelum sore kami sudah sampai di pos 3. Saya melihat deretan tenda-tenda sudah di dirikan oleh porter, api unggun sudah menyala dan kuali penanak nasi teronggok manis diatas nya. Satu ceret air panas telah tersedia. Disebelah tenda group kami, terdapat beberapa buah tenda juga dari group lain dengan segala aktifitas nya, saya membayangkan deretan tenda-tenda ini seperti sebuah perkampungan, lengkap dengan se ekor ayam nya.

tenda pos3

masak air

Sore itu kami isi dengan berbagai aktifitas, ada yang sibuk membersihkan diri, beristirahat dalam tenda atau membantu porter menyiapkan makan malam. Tapi sebagian besar dari kami duduk santai beristirahat sambil menikmati secangkir kopi atau teh. Menurut saya lokasi camping di pos 3 ini sangat sempurna, tenda berdiri di dalam lembah sehingga terlindung dari terpaan angin kencang.

mengulek sambal plencing_s

telur

Malam pun datang, udara semakin dingin,satu persatu kami memakai jacket dan kupluk penahan dingin. Dua buah api unggun disiapkan sebagai penghangat. Akhir nya waktu makan malam datang juga. Menu malam ini yang terhidang adalah pelecing kangkung, sambal ikan Roa dan telur dadar. Beruntung kami mendapatkan porter yang jago masak. pelecing kankung nya enak sekali, Bapak Porter tidak lupa membawa terasi khas Lombok dan jeruk limo sebagai syarat utama pelecing enak. Makan malam yang sempurna.

ourdinner

Setelah makan malam kami berkumpul di depan api unggun, bercengkrama menikmati malam. Susu coklat hangat menjadi pelengkap malam, ditemani alunan lagu lawas Bob Dylan dari audio yang kami bawa. Semakin malam, udara dingin semakin menusuk, perut kenyang dan badan letih, sudah saat nya kami masuk ke tenda, sleeping bag hangat sudah memanggil. Jutaan bintang terserak di langit malam mengantar kami kembali ke peraduan…..

Bersambung ke part 2…

Komentar Anda

comments

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below